Rabu, 16 Februari 2011

GLOBALISASI ECOLABELLING


ABSTRACT
Globalisasi dalam banyak kacamata adalah integrasi ekonomi. Integrasi ekonomi
yang terjadi tidak hanya dalam tarif tapi juga jasa, pekerja, proses produksi. Bisa
saja hampir seluruh produk dari suatu perusahaan semua komponennya di
produksi di berbagai belahan dunia yang berbeda. Selain produk, dan uang yang
mengalir, dampak-dampak negatif pun mengalir

CONTENT
Globalisasi menurut Anthony Giddens adalah intensifikasi hubungan sosial
dunia yang menghubungkan lokalitas yang jauh dengan berbagai cara yang pada
akhirnya local happening dibentuk oleh banyak orang. Lokalitas yang naik
levelnya menjadi tingkat global, itulah intinya. Globalisasi adalah terjadinya
integrasi ekonomi dunia, dimana ekonomi internasional akan berpengaruh
berpesar pada perekonomian nasional, begitu juga sebaliknya dan terutama pada
negara-negara besar. Globalisasi ekonomi pada satu sisi akan membuka peluang
pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif,
sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam
pasar domestik. Secara dalam proses globalisasi, batas-batas antar negara sudah
semakin kabur, sedangkan perkembangan zaman dan teknologi semakin maju.
Sehingga, masa perdagangan dunia pun dimulai.
Ekonomi dunia ini sekarang telah lebih terintegrasi dan terbuka selama the
belle epoque di tahun 1870-1914. Perjuangan menciptakan liberalisasi
perdagangan dunia telah lama diperjuangkan oleh para globalis dan lembaga-
lembaga ekonomi dunia. Perjuangan untuk menemukan suatu momen untuk
memasukkan agenda globalisasi sebagai norma dalam tataran internasional.
Seperti yang disebutkan Garrett, “The International Integration of markets
in gods, services and capital.” Berlakukannya sistem perdagangan dunia yang
bebas dimana hambatan tarif yang telah diberlakukan secara resmi tidak begitu dihiraukan, maka globalisasi perdagangan terwujud ketika terjadinya penurunan
dan penyamarataan tarif, bahkan penghapusan beberapa hambatan nontarif.
Sehingga kegiatan perdagangan dunia terjadi dengan persaingan yang semakin
ketat. Dengan adanya kekuatan pasar dunia, maka posisi perekonomian nasional
suatu negara menjadi lebih diperhitungkan.
Perdagangan bebas juga memungkinkan negara dengan kepemilikan modal
dapat melakukan investasi di negara-negara dengan sumber daya yang memadai.
Sehingga perusahaan-perusahaan internasional melakukan proses produksinya di
berbagai negara, dengan tujuan meminimalisir biaya produksi dengan
infrastruktur yang tetap memadai sedangkan iklim usaha dan politik pun
mendukung. Selain itu, perusahaan-perusahaan multinasional pun memiliki akses
untuk memperoleh pinjaman dari manapun.
Selain tarif dan modal, globalisasi mengena pada ranah produksi, proses
produksi yang terjadi di berbagai belahan dunia, barang-barang hasil produksi
yang telah melintas berbagai negara disebut transborder product. Misalnya,
produk sereal Koko Crunch yang aslinya merupakan produksi Nestle perusahaan
Eropa, kemasannya ada dalam berbagai bahasanya. Hal ini memperlihatkan
bahwa perusahaan dari Eropa, produksi kemasan di negara asal bahasa, terjadi
proses produksi yang dilaksanakan di berbagai macam negara. MNC-MNC dunia
banyak yang menerapkan sistem seperti Koko Crunch, melakukan berbagai
produksi di berbagai negara karena pertimbangan nilai-nilai produksi yang lebih
murah di berbagai negara tersebut. Dengan itu, keuntungan dan modal yang
ditanam MNC ada dimana-mana pula, disebut dengan transborder money. Jika
pada beberapa abad lampau emas adalah merupakan alat pembayaran yang sah
dan diterima di seluruh belahan dunia, sehingga disebut-sebut sebagai uang
suprateritorial, maka sekarang uang tersebut menjelma menjadi sebuah kartu
yang terbuat dari plastik yaitu bank cards. Kartu-kartu bank-bank di dunia
tersebut di anataranya sudah memiliki sistem adaptasi mata uang dari mesin-
mesin ATM di seluruh dunia, sedangkan kartu kredit dari beberapa bank di dunia
juga sudah dapat diterima untuk melakukan pembayaran di gerai-gerai dengan
denominasi mata uang berbeda.

Fair Trade adalah serangkaian gerakan-gerakan, kampanye, dan inisiatif yang
muncul di dekade-dekade terakhir ini yang paling dinamis, sebagai respon dari
efek negatif globalisasi. Aksi-aksi seperti: anti-sweatshop di pabrik-pabrik garmen,
eco-labelling pada kayu, sertifikasi produk makanan, semua hal ini ingin
menciptakan masa depan yang berkesinambungan dan berjiwa sosial. Ada yang
menganggap fair trade adalah sinonim dari free trade, untuk memberikan bobot
moral pada argumen-argumen terhadap pembinasaan kondisi-kondisi lingkungan.
Sesuai dengan pernyataan bersama dari gerakan fair trade, tujuan mereka salah
satunya adalah meningkatkan mata pencaharian dan kesejahteraan produsen
dengan meningkatkan akses pasar, memperkuat organisasi produser,
membayang dengan harga lebih baik, dan menyediakan keberlanjutan hubungan
dagang. Dan tujuan-tujuan lain yang sejalur seperti tujuan pertama. Massa
memprotes melawan konsekuensi negatif globalisasi telah berakselerasi
pencarian untuk pendekatan baru terhadap globalisasi. Tetapi Fair Trade
membawa dilema yang lebih kompleks, karena gerakan Fair Trade sendiri memliki
tantangan-tantangannya:
1. Meningkatnya pengejaran pasar volume besar dan kerjasama bisnis
melibatkan pedagang-pedangan skala besar, distributor-distributor,
supermarket-supermarket, dan retailer-retalier lain.
2.Integrasi perkebunan skala besar atau perkebunan ke dalam produksi
perdagangan bersertifikat adil
3. Perubahan naluri dasar gerakan Fair Trade itu sendiri
4. Pergeseran dasar konsumen dari gerakan fair trade

MARXIST TERHADAP GLOBALISASI
Pada artikel Peter Marber dengan judul “Seeing The Elephant”, digambarkan
jelas bagaimana tahapan negara-negara menjadi semakin maju dalam proses
produksinya. Amerika yang memproduksi barang-barang sandang, seperti
pakaian, mengimpor produk pertanian dari Meksiko karena kemurahannya,
seiring kemajuan, Meksiko naik level menjadi produsen celana jeans danMeksiko mengimpor produk pertanian dari Guatemala. Disini terlihat jelas apa
yang terjadi pada globalissasi, dengan konstannya kompetisi ekonomi dan
dagang, dengan modal dan produk yang bergerak bebas, pada akhirnya akan
mempertahankan lingkaran borjuis dan proletar. Dimana yang terbiasa
menjadi “bawahan” akan tetap jadi “bawahan” dan bahkan ketika “bawahan”
naik pangkat, jadi “atasan” dia akan dengan sendirinya menciptakan
“bawahan baru”, seperti dilihat pada kasus Meksiko. Amerika Serikat tetap jadi
core, Meksiko yang pada dasarnya periphey, kemudian naik jadi semi-
periphery dan membuat Guatemala menjadi negara periphery. Lingkaran ini
terus berlangsung, walaupn Globalisasi telah merangsang uang dunia menjadi
jauh lebih banyak dengan perdagangan, akan selalu terjadi perbedaan kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar